Categories
Main

Untung Jangan Dimakan Sendiri

Nanang Purus Subendro bukan orang baru di dunia peternakan sapi di Provinsi Lampung. Maklum, dokter hewan ini selama 22 tahun bekerja di perusahaan penggemukan sapi (feedlot) PT Great Giant Livestock (GGL) di Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah. Berbagai divisi sudah digelutinya, mulai dari meng urusi impor sapi bakalan, budidaya, hingga pemasaran. Tak pelak alumnus UGM 1989 ini memiliki akses dengan para peternak sapi di Australia, piawai dalam budidaya sapi, dan punya ja ringan pemasaran dari Aceh sampai Nusa Teng gara Timur.

Berbekal itu semua, pria berusia 52 tahun ini memulai usaha penggemukan sapi sendiri di bawah bendera PT Indo Prima Beef pada 2012 dengan modal awal 300 ekor. Dalam empat tahun sapinya berkembang menjadi 3.000-an ekor.

Berbagi Ilmu

Kepada AGRINA yang menemuinya di Bandarjaya, Lampung Tengah, Nanang berbagi resep suksesnya untuk peternak sapi tradisional yang ingin mengembangkan skala usaha atau pihak lain yang ingin beternak sapi. “Kalau saya memberikan ilmu kepada orang lain, tidak akan habis dan saya puas jika ilmu saya bermanfaat bagi sesama peternak,” ujarnya memulai obrolan.

Meski mampu mengimpor langsung sapi ba kalan dari Australia, Nanang tetap merasa sebagai peternak kecil dan karena itu ia berusaha keras agar rekan-rekannya peternak tradisional bisa mengembangkan skala usahanya. Salah satunya dengan mentransfer ilmu dan teknologi secara gratis.

Bahkan ia membangun gedung pelatihan khusus bagi peternak atau calon peternak yang ingin belajar teknis budidaya sapi di dalam areal peternakannya. Seusai pelatihan pun, peserta diberi kesempatan magang. Jika dibutuhkan Nanang akan menjalin kemitraan. Sebagai supervisor, pihaknya akan mengawasi usaha penggemukan sapi mitra sampai panen. Termasuk me masok konsentrat sesuai kebutuhan mitra.

Mengapa Nanang mau melakukan itu semua? “Saya ingin sama-sama berkembang dan maju dengan sesama peternak. Saya untung, kawan-kawan saya peternak juga harus untung. Jadi untung tidak dimakan sendiri agar langgeng. Jika kita untung, mitra rugi pasti kemitraan atau hubungan bisnis tidak berlanjut,” cetusnya.

Pasar Meningkat

Aktivis Asosiasi Peternak dan Penggiat Sapi Lokal (APP-SLI) ini menilai, beternak sapi masih termasuk usaha yang pangsa pasarnya terus meningkat. Harga produknya cukup stabil, meski mar gin keuntungannya tipis.

Sebagai gambaran, dengan tingkat konsumsi daging sapi sebesar 2,7 kg/kapita/tahun saja, Indonesia kekurangan pasokan. “Apalagi jika konsumsi itu naik menjadi separuh rata-rata konsumsi Malaysia yang mencapai 4 kg/kapita/tahun tentu peternak kelabakan memenuhinya. Semakin baik tingkat kesejahteraan dan pendidikan masyarakat, maka kebutuhan gizinya dari daging semakin banyak,” urai pria berpostur langsing ini.

Artinya ada peluang, tetapi pasti ada risiko. Risiko diminimalisasi dengan menguasai teknis budidaya dan memiliki akses pasar. Terkait kendala permodalan, “Manfaatkan jaringan, akses dengan orangorang terdekat dan berpengalaman untuk bisa mendapatkan kepercayaan perbankan,” sarannya.

Di antara tiga macam usaha budidaya peternak an, yakni pengembangbiakan (breeding), pembesaran, dan penggemukan, penggemukan yang pa ling kecil risikonya. Breeding perlu waktu minimal 18 bulan baru bisa panen sehingga butuh modal besar. Pun pembesaran, prosesnya lama, sementa ra penggemukan hanya 4 bulan. Namun jika peternak memiliki padang rumput tentu pengembangbiakan/pembibitan cukup baik untuk dikembangkan.

Jika dipukul rata keuntungan dari penggemukan selama 4 bulan hanya Rp1 juta/ekor, maka skala ekonomis beternak sapi minimal 20 ekor sehingga bisa panen setiap bulan lima ekor dan menghasilkan laba Rp5 juta. “Untuk di kampung seperti Bandarjaya ini, penghasilan sebanyak itu cukup untuk makan sekeluarga dengan dua atau tiga anak dan menyekolahkannya,” kata Nanang.

Untuk memulai usaha tersebut, dibutuhkan dana sebesar Rp300 juta guna membangun kandang, membeli sapi dan menyediakan pakannya selama 4 bulan. Biaya pakan sebanyak Rp40 ribu/ekor/ hari untuk budidaya intensif dan Rp20 ribu/hari/ ekor untuk peternakan tradisional.

Melihat kesulitan peternak, Nanang mengaku sudah berkali-kali mengusulkan kepada pemerintah agar menerbitkan skema kredit khusus pengembangan ternak yang agunannya adalah ternak itu sendiri. Pasalnya, tidak semua peternak memiliki agunan tanah dan bangunan.

Suami Wheny ini merasa miris dan prihatin melihat sapi-sapi bantuan yang diberikan kepada kelompok tani tanpa disertai kredit biaya pemeliharaan sehingga beberapa di antaranya terpaksa di jual untuk membeli pakan. Walhasil, sapi bukan berkembang, tapi malah berkurang dan sasaran program untuk meningkatkan populasi sapi tidak tercapai.

Menyambut ketentuan baru impor bakalan dengan perbandingan setiap mengimpor lima ekor bakalan harus satu ekor di antaranya sapi betina indukan, Nanang akan melakukan kemitraan dengan peternak binaannya untuk sapi indukan. Peternak mitra yang belum memiliki modal sendiri akan diajukan ke bank untuk mendapatkan kredit dengan jaminan PT Indo Prima Beef.

Sementara peternak yang sudah mengantongi modal sendiri akan membeli indukan dari PT Indo Prima Beef. Tanpa langkah itu, lanjut dia, kandangnya yang berkapasitas 5.000 ekor dalam jangka waktu tertentu akan penuh dengan sapi indukan sehingga ti dak bisa menggemukkan sapi bakalan lagi. Kon disi demikian juga akan dialami perusahaan peng gemuk sapi lainnya. Akibatnya, ketika impor ba kalan berkurang, maka stok sapi lokal akan ter kuras untuk memenuhi kebutuhan daging di dalam negeri.

Langkah yang diambilnya tersebut sekaligus terobosan untuk meningkatkan skala usaha peternak tradisional. Namun peternak mitra harus mengombinasikannya dengan penggemukan. Keuntungan penjualan sapi yang digemukkan bisa membiayai pakan sapi indukan. “Jadi subsidi silanglah,” pungkas ayah Farid yang mahasiswa Ke dokteran Hewan UGM dan Ardi masih sekolah SMA juga di Yogyakarta.