Categories
Main

Mengatur Pola Tanam Mulai dari Kelompok

Perbaiki Sisi Budidaya

Masih menurut Dadi, manajemen budidaya cabai mutlak harus menyesuaikan tuntutan pasar. “Jenis cabai yang dibutuhkan dan volume serapan pasar relatif tetap tiap bulan, nah seharusnya pasokan cabai terus terjaga,” terangnya. Dari sisi konsumen, apalagi industri, maunya ada kepastian pasokan. Di lain pihak, petani juga meng inginkan keuntungan yang wajar. Untuk menjaga kepastian pasok an, sudah pasti yang perlu diperhatikan adalah sisi budidaya. Dadi menganjurkan petani memperhatikan faktor perlindungan, keamanan, dan kesehatan tanaman. “Memang, memperbaiki kondisi seperti ini tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Tapi sekarang, perlindungan tanaman cabai sudah harus menggunakan naungan,” katanya mantap. Saat ini, lanjut kakek dari lima cucu itu, kondisi udara sudah semakin parah, banyak spora bebas di udara jadi tanaman cabai mutlak diberi perlindungan maksimal. Dari sisi keamanan, faktor pemilihan lokasi menjadi penting mengingat seringnya bencana alam terjadi tanpa terduga. Kemudian faktor kesehatan, mulai dari tanah, pupuk, lingkungan, bahkan orangnya pun harus sehat.

Dan berbicara tentang teknologi, Dadi berujar sebenarnya tidak ada yang baru. Naungan merupakan hal lama tapi masih jarang digunakan di Indonesia karena investasinya mahal. Walaupun begitu, naungan tidak selalu mahal karena tidak harus menggunakan greenhouse tapi bisa juga dengan plastik UV dan batas sampingnya memanfaatkan net (jaring). Dengan naungan, saat musim hujan tanaman akan terlindung dari jatuhan air yang merontokkan bunga. Dan saat musim panas, apabila terlalu panas bisa menggunakan kipas penyedot udara (exhaust fan) untuk mendinginkan udara.

Petani Cerdas

Selaras dengan pendapat Dadi, Suhendar, petani hortikultura asal Cianjur, Jabar, menegaskan pentingnya petani memanfaatkan teknologi. “Kita tidak bisa mangkir dari teknologi budidaya cabai. Contoh kecilnya seperti penggunaan mulsa. Kalau teknologi menguntungkan ya kita wajib pakai,” sambungnya. Contoh lain, penggunaan mesin kultivator pengolah tanah dan penggunaan power sprayer untuk penanganan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). “Penggunaan kultivator lebih hemat karena kerjanya cepat. Dengan asumsi kerja dari pagi sampai sore, dalam waktu 20 hari kultivator dapat menyelesaikan satu hektar lahan dengan satu atau dua orang operator,” jelasnya.

Hitungan dia, total penghematan biaya mencapai 40%. Misal dengan cangkul manual menghabiskan Rp10 juta/ha, kultivator hanya mencapai Rp6 juta/ha. Sebagai petani, Hendar memiliki kiatkiat untuk mengamankan pasokan cabai di kelompoknya. Ia sudah menjalin kemitraan dengan restoran di Jakarta sehingga kebutuhan pasokan sudah tercatat. Petani yang tinggal di Desa Cibenda, Pacet, Cianjur ini menerapkan pola tanam di kelompoknya. “Target tanam satu hektar per bulan. Total lahan yang dikelola ada 6 ha tapi harus siapkan 10 ha. Sisanya untuk masa rotasi,” paparnya. Karena bercocok tanam di lahan pegunungan, pria kelahiran 1980 ini menggunakan terasering untuk menahan lahan supaya tidak longsor. Kemudian dari sisi pemupukan, ia mengurangi asupan nitrogen untuk tanamannya. “Saat cuaca banyak hujan cari pupuk yang tidak banyak nitrogennya.

Pakai yang ada fosfat dan kalium. Terlalu banyak nitrogen jadi rentan OPT,” ungkapnya. Tinggi dan lebar guludan minimal 60 cm x 60 cm. Khusus musim hujan, jaraknya direnggangkan sampai 70 cm. Dengan sejumlah kesulitan teknis budidaya, Hendar menyakini, bisnis cabai tetap menarik asalkan ada jaminan harga. “Kita juga tidak mau harga cabai terlalu tinggi sehingga memberatkan konsumen. Yang penting dapat harga wajar di atas BEP,” tuntasnya.