Categories
Main

Membangun Pertanian dengan Mekanisasi

Pembangunan pertanian harus dilakukan secara sinergis, baik oleh pemerintah maupun pelaku usaha. Menurut Clifford Budiman, dalam mengembangkan jagung misalnya, pemerintah sebaiknya melibatkan swasta, khususnya di lahan baru. Industri jagung bisa mencontoh kemitraan inti-plasma industri sawit. “Mengubah pertanian Indonesia menjadi skala industri seperti sawit. Kita eksportir sawit terbesar sedunia, swasta yang melakukan itu. Kenapa komoditas pangan tidak diperlakukan sama?” ia mengkritisi. Pegiat Moderenisasi Alat dan Mesin Pertanian Indo nesia itu menjelaskan, jika swasta terlibat dalam pengembang an jagung nasional, mereka punya dana untuk investasi, pengetahuan, teknologi, dan jaringan ke luar sehingga biaya produksi lebih efisien, hasil panen lebih banyak, dan harga komoditas menjadi lebih rendah. Pemerintah berperan menjembatani kemitraan swasta dengan penduduk setempat atau petani lokal.

Budaya ke Bisnis

Selain perluasan areal tanam dan peningkatan indeks pertanaman, Kemen terian Pertanian sudah banyak memberikan bantuan mekanisasi. Diduga, bantuan tersebut banyak yang mangkrak. Salah satu penyebabnya, ulas Clifford, pertanian Indonesia sedikit-banyak masih dikerjakan berdasarkan budaya (culture). “Kalau di Indonesia, (pertanian) turunan dari orang tuanya jadi otomatis penyerapan mekanisasi sangat rendah. ‘Aku diajari orang tua dulu seperti ini’. Ini paradigma yang harus diubah,” ucapnya kepada AGRINA. Sementara di negara lain seperti Eropa atau Amerika, konsep yang digunakan adalah petani harus berbisnis. Sehingga, mereka sangat memperhitungkan efisiensi biaya produksi dengan menggunakan mekanisasi.

Maka menggandeng pihak swasta baik korporasi atau perorangan, akan meningkatkan penyerapan teknologi mekanisasi yang berkualitas. “Swasta nggak mau barang yang murah. Mereka berpikir bagaimana balik modal, bagaimana berinvestasi supaya menjadi lebih efisien. Sehingga, cost-nya berkurang otomatis margin saya naik,” papar lulusan Bachelor Science of Business Marketing University of San Francisco, Amerika, 2011 ini. Clifford juga menyoroti masalah infrastruktur pendukung mekanisasi. Pemerintah berkewajiban menyediakan infrastruktur jalan pertanian guna mendukung penerapan mekanisasi. “Jalan-jalan di daerah yang nggak ada aspalnya, gimana mau mekanisasi?” dia mempertanyakan efektivitas mekanisasi jika infrastruktur jalan tidak tersedia.

Yang sangat krusial, pemerintah pun seharusnya mengimbangi kebijakan pemberian bantuan alsintan dengan melakukan edukasi dan sosialisasi. “Mekanisasi saja nggak cukup. Jika pemerintah tidak ikut campur tangan dalam edukasi dan sosialisasi, semua bantuan yang diberikan dan edukasinya hanya pihak swasta, hasilnya tidak akan optimal. Sebab, tidak semua swasta memiliki kemampuan dan mentalitas yang sama untuk melakukan hal itu. Kalau mau aman, ayo kerja sama dengan swasta untuk sosialisasi,” tandasnya.